April 27, 2015

Kaca, Mata

Dua pasang mata dibalik kaca saling bertabrakan
Seperti yang sudah-sudah, kebetulan lebih keras bergema.

Dua pasang mata dibalik kaca saling bercermin
Entah energi apa yang dilepaskan di udara
Sang mata tidak menerima
Sang hati lamban mencerna

Dua pasang mata dibalik kaca saling memandang
Sama-sama mematri
Sama-sama mengunci

Entah hati siapa bicara,
Dua mata dibalik kaca berpaling
Dua mata dibalik kaca menangis

Kita jadi buta

Kita jadi buta,
antara Kamu dan Saya ada jurang menganga

"Pegang tangan Saya." Kamu bicara yakin

Saya ragu tapi meraihmu jua tanpa banyak bicara,

Ada euforia semu menjalar antara jari-jemari kita.
Saya belum sempat menemukan padanan kata ketika,
detik selanjutnya kita menjatuhkan diri.

Lalu kita jadi buta.

Oktober 27, 2014

Memorabilia


Bukan cuma omong kosong ketika kita bicara.
Harapan-harapan sudah jauh ditinggikan bersama.
Tapi “kita” cuma jadi kata benda.
Ada tangan-tangan lain yang jadi arsiteknya.

“Jadi harus bagaimana?” Suatu ketika Kamu bertanya.
Pertanyaanmu klise, sayang.
Bukan lagi puluhan kali Aku berbisik pada angin,
menunggu.
Kosong.

Dengan Kamu, Aku lupa bagaimana caranya menjadi salah.
Dengan Kamu, Aku lupa bagaimana caranya terluka.
Dengan Kamu, segalanya jadi terbolak-balik.
Dengan Kamu, segalanya jadi subjektif, tanpa batas, blur.

Seandainya bahagia hanya tentang bagaimana kita kehilangan arah bersama,
bukankah segalanya jadi lebih sederhana?

Memorabilia.
Kamu,
Kita.
 
Untuk Kamu, Pram.

Terimakasih.

Maret 22, 2014

Lebih dari itu

Sukmanya sedang menjerit.
Akalnya sedang berkomplot dengan hati untuk mengakhiri segalanya.
Tapi imannya masih mencoba bertahan.

"Jangan pergi!" Katanya memerintah.

Sukma meringkuk ketakutan dibalik selubung nurani.
Akal dan hati membisu sekejap
Segalanya jadi senyap.


Pertengkaran hebat dalam raga yang sudah akan tumbang.
Lelah, penat. Bukan lagi padanan kata yang tepat.
Segalanya lebih dari itu.
Lebih dari itu.

Oktober 10, 2013

Mungkin bertemu



Objeknya Aku. 
Kata kerjanya Kejar. 
Lalu subjeknya? Kebebasan.


Mungkin ribuan hari dari sekarang, kita tidak akan pernah bertemu.
Menertawai diri kita yang dulu dan sama-sama mengakui kebodohan-kebodohan di masa lalu.

Mungkin kamu tidak akan lagi menemukanku berdiri diam diantara rak-rak buku. 
Tenggelam dalam kertas cerita pilihanku sendiri.

Mungkin kamu tidak akan lagi menemukanku duduk manis disebelah kaca jendela. 
Hanyut bersama bola-bola kapas iregular bernama awan.

Mungkin kamu tidak akan lagi menemukanku menatap sendu rintik hujan 
dan terbawa suasana alunan lagu-lagu yg kupilih sendiri.

....atau mungkin kita akan tetap bertemu.

Dengan perbandingan 1:1000, kamu akan menemukanku diam membisu. 
Mabuk dengan segala penyesalan akan kelalaian masa mudaku.
Termangu disudut-sudut kafe tua, 
terbawa kepulan asap putih tiap cangkir Americano...

Membeku bersama dinginnya kursi besi keropos di sebuah halte bobrok.

Atau kamu... bisa menemukanku dalam keadaan yg lebih mengenaskan. 
Baju hijau, bau desinfektan....

Kamu menemukanku hidup sambil memandang Kebebasan yang semakin menjauh. 
Tersiksa tapi tak mampu bergerak.

Kamu mungkin akan menemukanku dengan jiwa yang sudah membiru. 

Itu... 
Kalau aku cukup beruntung untuk bisa bertemu denganmu.


- dev



credits: http://tinyurl.com/ph4eyed